Powered By Blogger

Kamis, 13 Oktober 2016

DIGITAL CINEMA

Digital cinema atau kita bisa mengartikannya sebagai film yang berformat digital merupakan teknologi digital untuk mendistribusikan dan menayangkan gambar bergerak, pendistribusiannya bisa melalui perangkat keras berupa piringan optik seperti DVD (Digital Versatile/Video Disc) ataupun melalui satelit. Dolby Digital merupakan teknologi untuk menghasilkan suara surround digital. Teknologi ini biasanya digunakan dalam pemrosesan dan pembentukkan data audio untuk film-film di bioskop atau film-film pada media kepingan seperti DVD. Dolby Digital dikembangkan oleh Dolby Laboratories. Dolby menunjukan solusi bioskop digital terbaru untuk audio, jaringan 3D dan masih banyak lagi. Dolby memberikan kemudahan dari sebelumnya dengan para peserta pameran untuk transisi ke bioskop digital dengan lengkap dan handal solusinya. Ini termasuk bioskop digital server, perangkat lunak, dan 3D solusi, serta terbaru dalam pemrosesan audio, CP750 Digital Cinema Processor. DOLBY CP750 Komitmen dolby untuk menyederhanakan sinema digital yang mana memberikan fasilitas yang mudah dan ekonomis. Dirancang untuk bekerja dengan lingkungan sinema digital yang baru serta konten alternatif, dan server sinema digital. Prosesor menggunakan interface dan setup kuat / software remote, dan dapat memutar ulang audio digital PCM. Dengan membiarkan teater jaringan pusat operasi untuk mengelola sistem, unit dapat dimonitor, dikontrol, dan upgrade dari satu lokasi terpusat melalui Internet. CP750 bisa memproses pendengaran dan mengurangi gangguan penglihatan trek yang kadang terganggu. Dolby 3D Digital Cinema Berkualitas tinggi yang fleksibel-solusi 3D, yang mendukung baik 2D dan 3D pemutaran tanpa perlu sebuah auditorium 3D khusus atau layar perak khusus. Menyediakan serta memberikan pengalaman menonton yang luar biasa untuk 2D dan konten 3D. Menggunakan teknologi penyaringan warna yang unik untuk reproduksi warna realistis dan kristal gambar jelas. Fitur Dolby 3D yang dapat dipakai ulang ratusan kali, menyediakan model keuangan yang menarik serta solusi ramah lingkungan. Dolby Digital Cinema Server Termasuk Store Show Dolby (DSS100) dan Player Show Dolby (DSP100). Built-in Screen Management System (SMS) software Built-in Screen Management System (SMS) perangkat lunak. DSS100 menampung hingga sekitar delapan film saat ini rata-rata ukuran file. DSP100 sandi data film, decode gambar dan suara, dan output data citra reencrypted ke proyektor sinema digital. Dolby Tampilkan Perpustakaan Memungkinkan peserta untuk memuat konten digital dari server pusat melalui Ethernet, USB 2.0, satelit, DVD, atau drive removable hard. Membagi-bagikan file elektronik dan secara otomatis ke jaringan sistem Dolby Digital Cinema seluruh multipleks. Memungkinkan operator teater untuk dengan mudah memprogram jadwal seluruh film, termasuk iklan pada layar, dengan menggunakan drag-and-drop Dolby software manager menampilkan antarmuka manager dan perangkat lunak. TENTANG LABORATORIUM DOLBY Didirikan pada tahun 1965 dan paling terkenal untuk kualitas audio yang tinggi dan surround sound, Dolby menciptakan inovasi yang memperkaya hiburan di film, di rumah, atau di mana saja. Awalnya disebut Dolby Stereo Digital sampai tahun 1994. Kecuali untuk Dolby TrueHD, kompresi audio lossy. Penggunaan pertama dari Dolby Digital untuk memberikan suara digital di bioskop dari cetakan film 35mm. Sekarang juga digunakan untuk aplikasi lain seperti siaran TV, DVD, Blu-ray dan konsol game. Penampilan kinerja Dolby 3D yg dipakai pada film ‘Journey to The Center of The Earth – 3D’ di gedung bioskop Plaza Senayan XXI sangatlah menyakinkan. Gambar 3D yang stabil, detil, jernih dan tidak membuat sakit kepala atau pusing. Ngga’ ada salahnya kali ini kita mengupas cara kerja Dolby 3D. Sebelum lanjut membahas cara kerja Dolby 3D ada baiknya meninjau perkembangan beberapa teknik menampilkan film 3D di gedung bioskop. Anaglyph Teknik yg paling awal dan sederhana ini cukup sukses diawal-awal zaman keemasan film 3D. Hanya dengan kaca mata merah-sian (biru muda), sudah dapat memfilter gambar kiri dan kanan pada layar putih di gedung bioskop. Teknik ini juga tidak memerlukan projektor khusus, cukup hanya satu projektor film (celuloid) ataupun Digital Cinema sudah bisa memainkan film 3D. Hal ini dimungkinkan karena materi film lah yg berformat anaglyph. Disamping kemudahannya, memang ada kekurangannya yaitu warna film menjadi terdistorsi khususnya pada gambar disparity yaitu gambar rangkap 2 yg terpisah krn adanya beda paralax akan berwarna merah dan cyan berdampingan. Warna yang timpang tersebut membuat penonton tidak cukup nyaman untuk menonton film panjang, dimana mata kiri selalu melihat dengan kaca mata filter merah dan kanan dengan kaca mata sian. Oleh sebab itu, pada film spt ‘Spykid 3D’ ada jeda adegan non-3D kurang lebih setalah 15menit pertunjukkan 3D agar, mata penonton bisa istirahat. Polarisazed (polarisasi) Teknik ini muncul di awal tahun 50an, dengan prisip bahwa sinar bisa diatur rambatannya dengan sudut kutub tertentu. Sehingga dua gambar stereoskopis bisa difilter dengan kutub yang berbeda. Umumnya mata kiri dengan kutub 0 derajat dan kanan 90 derajat (ada juga yg -45 dan 45). Gambar kiri dan kanan bertumpang tindih pada layar akan disaring dengan sempurna sesuai sudut kutub pada kacamata yang dikenakan penonton. Teknik polarisasi ini membuat penonton merasa nyaman karena film disajikan dalam tata warna penuh. Adegan-adegan film 3D menjadi lebih nyata. Hanya saja teknik ini merepotkan atau memerlukan biaya tambahan bagi pihak bioskop. Teknik mengharuskan memakai dua projetor kembar (baik yg Digital Cinema ataupun analog -film celuloid) dan layarnya harus khusus pula, yaitu silver screen. Ini dimaksud agar sinar terpolarisasi tersebut sampai sempurna ke kacamata penonton. Repotnya lagi, setelah bioskop dibuat untuk 3D selanjutnya tidak cocok lagi untuk memutar film biasa (2D), karena layar perak tadi menjadi tidak nyaman. Biasanya teknik polarisasi ini sering dipakai pada gedung bioskop yg hanya khusus memutar film 3D saja. Film-film dokumenter atau hiburan pendek seperti bisa anda saksikan Bioskop 4D di Ancol atau The Jungle (Bogor). Tentu teknik ini akan menambah biaya yang besar pada gedung bioskop biasa untuk film-film panjang. Apalagi film 2D masih lebih dominan daripada 3D. Sehingga investasi di bioskop film biasa menjadi mubazir. Liquid Crystal Display (LCD) Shutter Teknik ini lebih cocok hanya untuk Digital Cinema. Dan tidak perlu layar perak atau dua projector selama pemutaran film 3D. Hal ini memungkinkan karena gambar kiri dan kanan ditampilkan tidak secara bersamaan seperti teknik polarisasi diatas, melainkan bergantian sangat cepat 144 frame/detik. Agar mata kiri hanya menangkap gambar informasi kiri, diperlukan kacamata LCD shutter yg akan berkedip bergantian untk memblokir mata kanan dan kiri bergantian sehingga serempak dengan tampilan gambar kiri-kanan di layar bioskop. Hasilnya cukup menyakinkan, film 3D mampu tampil dengan warna penuh seperti halnya teknik polarisasi. Hambatan dari teknik ini adalah biaya kacamata yg menjadi mahal dan memerlukan rangkain elektronik yang aktif (memerlukan battery, kabel sycn atau freq radio) pada setiap kacamata yg dipakai penonton. Dan kekurangan lainnya yang sering terjadi, teknik ini tidak handal untuk gedung bioskop dengan kapasitas lebih dari 200 orang. Selain biaya mahal juga tidak bisa menjamin semua kaca mata tidak kehabisan battery atau kedipannya tidak sinkron dengan tampilan gambar di layar. Yang jelas kaca mata LCD tidak seringan dan semurah anaglyph atau polarisasi di atas. Teknik Terkini Ada 3 metode yang menjanjikan untuk dipakai pada film-film 3D terkini dan akan datang, yaitu XpanD, RealD dan Dolby 3D. Teknik yang terkini tersebut bersaing untuk dipakai secara umum pada film cerita 3D. Semuanya berusaha mengambil keuntungan ke tiga teknik terdahulu di atas dan juga berusaha menghilangkan kekurangan-kekurangannya. Memang ketiga metode 3D terkini sangat diuntungkan dengan perkembangan perbioskopan ke arah Digital Cinema. Nontonlah sebuah film dari Digital Cinema pada minggu terakhir film tersebut diputar, kita tidak akan menemukan penurunan mutu warna atau garis-garis goresan karena film telah diputar puluhan kali di gedung bioskop. Misalkan, satu hari sebuah judul film umumnya diputar 5 kali pertujukan, bila film box-office akan bertahan dibioskop 21 hari, maka pada film celuloid akan kena lampu dan projector’s sprocket sebanyak 100-an lebih. Biasanya film celuloid mulai kelihat garis-garis goresan ketika diputar untuk ke 30 kalinya. Hal ini tidak akan ditemukan pada Digital Cinema. Untuk artikel ini hanya membahas Dolby 3D. Selain itu, RealD ternyata masih memakai circulary polarization glasses artiya masih perlu layar khusus dan Xpand tetap menghandalkan Active Glasses. Oleh karena itu banyak gedung biokop di dunia ‘senang’ memilih teknik Dolby 3D pada gedung bioskop yg sudah ada. Dolby 3D tidak memerlukan layar perak seperti halnya teknik polarisasi. Layar putih yg terdapat pada umumnya pada gedung biokop masih tetap terpakai. Untungnya lagi, cukup memerlukan satu Digital Cinema Projector saja, tentu yang telah dimodifikasi sedikit. Selanjutnya projektor hasil modifikasi masih bisa terpakai lagi untuk film 2D biasa. Tidak perlu kaca mata aktif, jadi tetap kacamata pasif mirip kacamata anaglyph atau polarisasi yang tidak ada battery atau rangkaian elektronik pada kacamata. Alhasil kacamata Dolby 3D tetap ringan. CARA KERJA DOLBY 3D Dolby 3D memakai teknik ‘wavelenght triplet‘ yang asalnya dikembangkan oleh perusahaan Infitec dari Jerman. Di dalam projector Digital Cinema, umumnya memakai DLP dengan tiga warna primer, yaitu merah-hijau-biru atau sering disingkat dengan RGB (Red, Green, Blue). Dengan Dolby 3D, ketiga panjang gelombang (pada masing-masing warna dasar) dibagi lagi menjadi dua. Sehingga terdapat warna merah utama dan merah dengan panjang gelombang sedikit bergeser di bawah merah yg utama. Begitu juga dengan yang biru dan hijau memiliki ‘kembarannya’ dengan panjang gelombang sedikit dibawah. (lihat gambar) pembagian panjang gelombang cahaya pada RGB Nah, warna RGB yang utama akan menampilkan gambar-kanan sedangkan RGB yang sedikit dibawah panjang gelombang RGB utama akan menampilkan gambar kiri. Selanjutnya setelah diproyeksi ke layar putih yang pada umumnya di gedung-gedung bioskop, penonton akan memakai kacamata khusus. Dimana filter ini kacamata yg kiri sesuai dengan panjang gelombangnya. Karena Dobly 3D memakai satu projektor saja, maka frame gambar kiri dan kanan ditampil bergantian. Jangan kuatir akan terlihat kedipan selama menonton film 3D, karena pergantian frame (frame rate) sangat cepat yaitu 144 frame/detik atau masing gambar kiri atau kanan mendapat 72 frame/detik (bandingkan dengan projector celuloid – 24 frame/detik). Dan urutan gambar kiri dan kanan yang sangat tinggi itu hanya terjadi di sisi projector saja, tidak pada kacamata penonton. Ingat, kacamata penonton tetap bersifat pasif. Agar saat gambar kiri menghasilkan panjang gelombang yang sedikit begeser, maka projector memerlukan modifikasi kecil dengan menambahkan filter berbentuk cakram. Cakram ini berputar persis di depan lampu projektor sebelum ‘image device’- DLP. Cakram terdiri dari dua filter warna yang akan mempengaruhi panjang gelombang cahaya putih dari lampu projector. Rotasi filter cakram akan diselaraskan dengan tampilan gambar kiri-kanan yg bergantian di DLP. Dengan teknik Dolby 3D, pemilik bioskop (yang sudah ber-Digital Cinema, tentunya), tidak perlu mengubah layar atau menambah projector hanya sekedar untuk memutar film 3D saja. Bila ingin memutar kembali film 2D, cukup melepas atau menggeser (secara elektronik) filter carkram tersebut dari lampu projektor. Jika kita amati cara kerja dolby 3D: – mirip gabungan antara teknik anaglyph (yang memanfaatkan spetrum warna) dan teknik LCD shutter (yang ingin memanfaatkan satu projector saja). Namun berbeda dengan anaglyph, disparity image yaitu gambar rangkap 2 yg terpisah karena adanya beda paralax akan berwarna merah dan cyan berdampingan, sehingga dengan anaglyph membuat warna film selama pertunjukan 3D menjadi terdistorsi. Hal ini tidak terjadi di Dolby 3D, karena masing-masing mata tetap mendapatkan spektrum warna yang utuh & lengkap. – proses pengiriman gambar stereoskopis ke penonton terjadi pada proses akhir presentasi film, yaitu di projektor gedung bioskop. Artinya, film/gambar 3D yang memuat informasi stereoskopik (kiri & kanan) apasaja dapat ditampil dengan Dolby 3D. Ini juga meringankan si pembuat film 3D yang tidak perlu memikirkan teknik akhir penyajian tiga dimensi pada penonton. Kaca mata Dolby 3D Kacamata ini memang tidak sesederhana bila dibandingkan dengan kacamata anaglyph ataupun kacamata polarisasi. Dilapisi dengan beberapa lapisan (coating) dengan teknik yang sangat presisi dan agar tidak terjadi bocor dan memfilter sesuai panjang gelombang cahaya yang diproduksi oleh projektor. Bila dilihat sepintas, coating-nya mirip lensa kamera (emas keperakan), dan tidak segelap pada kacamata hitam (sun glasses). Kacamata pasif dan bening Kita amati ketika memakai kacamata dolby 3D, cobalah memejamkan mata kanan maka mata kiri akan melihat gambar (kiri) yang sedikit lebih pucat dan berwarna dingin. Sebaliknya bila kita memejamkan mata kiri, maka gambar kanan lebih terlihat saturated dan berwarna lebih hangat. Namum perbedaan tersebut sangat halus. Boleh dikatakan hampir tidak terasa pada beberapa orang. Tapi hasil penyaringan kacamata sangat mengagumkan. Ketika saya menonton ‘Journey to The Center of The Earth– 3D baik pada adegan gelap dalam gua atau cerah-kontras pada adegan siang hari, tidak pernah saya jumpai ghosting image bahkan saat gambar memiliki area yang gelap dan terang sangat mencolok sekalipun. Juga pada saat lampu ruangan bioskop dinyalakan pada akhir film (ending credit title – biasanya penonton sudah berjalan menuju pintu keluar), kacamata ini masih bisa memfilter dengan baik dan sensasi 3D tetap tampil sempurna dan stabil tanpa bayangan bocor antara gambar kiri dan kanan, tulisan nama-nama aktor, aktris dan crew film masih tampil melayang mendekati penonton. ..hmm hal yang sulit dicapai pada sistem anaglyph. Memang Kacamata Dolby 3D lebih mahal (harganya sekitar $ 40) dari pada kaca mata anaglyph ataupun polarized(sekitar $1 hingga $5) tetapi tidak semahal LCD shutter glasses (lebih dari $ 100), karena kaca mata Dolby 3D tetap pasif alias tidak ada rangkaian elektroniknya. Namun masih mahal untuk diberikan secara cuma-cuma kepada penonton usai pertunjukan. Makanya gedung biokop dan kacamata dilengkapi sensor anti-curi (he he he), alarm di pintu akan berbunyi bila kacamata dibawa keluar dari ruang theater bahkan untuk ke WC sekalipun. Kacamata dilengkapi anti-curi dengan bingkai plastik dan filter kaca. Bila Dolby 3D menjadi umum dikemudian hari, diharapkan kacamata ini dapat dibeli bebas. Penonton bisa memiliki dan membawa sendiri kacamatanya ke gedung bioskop bila ingin menonton film 3D. Ya, seperti kita membawa kacamata renang sendiri bila mau berenang ke kolam renang, bukan. Dolby Digital merupakan teknologi untuk menghasilkan suara surround digital. Teknologi ini biasanya digunakan dalam pemrosesan dan pembentukkan data audio untuk film-film di bioskop atau film-film pada media kepingan seperti DVD. Dolby menunjukan solusi bioskop digital terbaru untuk audio, jaringan 3D dan masih banyak lagi. Dolby memberikan kemudahan dari sebelumnya dengan para peserta pameran untuk transisi ke bioskop digital dengan lengkap dan handal solusinya. Sebelumya banyak sekali teknik-teknik atau cara gedung-gedung bioskop film 3D yaitu anaglyph, polarisazed, liquid crystal display (LCD) shutter, dan teknik terkini (XpanD, RealD dan Dolby 3D). Kenikmatan akan film 3D tersebut memang membawa sensasi yang sangat menakjubkan, karena seolah-olah kita berada masuk dalam film tersebut menyaksikan secara langsung dialog dan ketika film tersebut memiliki genre action membawa kita ke tempat luar biasa. Coba deh tonton film yang 3D keren banget…. Referensi : https://fitriafrilinda.wordpress.com/2010/10/24/dolby-digital-cinema/ http://gambar3dimensi.com/2008/11/28/sekilas-cara-kerja-dolby-3d/ LEBIH LENGKAP? KUNJUNGI: http://www.mediafire.com/file/0eliojixrvitnpf/%7E%24GITAL_CINEMA.docx

Senin, 10 Oktober 2016

Digital televisi

PENGERTIAN TELEVISI ANALOG DAN TELEVISI DIGITAL TV Digital Televisi digital (bahasa Inggris: Digital Television, DTV) atau penyiaran digital adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal video, audio dan data ke pesawat televisi. TV Digital bukan berarti pesawat televisinya yang digital, namun lebih kepada sinyal yang dikirimkan adalah sinyal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital (Digital Broadcasting). Televisi resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital. TV digital memiliki resolusi yang jauh lebih tinggi dari standar lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan warna-warna matang, dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah pixel hingga 5 kali standar analog PAL yang digunakan. Televisi analog mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi dari sinyal seluruh sistem sebelum televisi dapat dimasukan ke analog. Sistem yang dipergunakan dalam televisi analog NTSC (national Television System Committee), PAL, dan SECAM. Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya terhadap gangguan (noise) dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di penerima dengan kode koreksi error (error correction code ). Perkembangan Tekhnologi Perangkat Media Televisi Televisi merupakan temuan internasional, karena banyak ilmuwan-ilmuwan yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan teknologi ini. Perkembangan pesat pertelevisian dunia setelah antara tahun 1951 dan 1954, saluran (chanel) Ultra High Frequency (UHF) mulai dibuka serta diketemukannya televisi berwarna. Menurut Riswandi dalam bukunya Dasar-dasar Penyiaran, Siaran sebagai output penyiaran yang dikelola oleh organisasi merupakan hasil perpaduan antara kreativitas manusia didukung oleh peralatan. Dengan perkataan lain, antar perangkat keras dan perangkat lunak. PERBEDAAN TELEVISI ANALOG DENGAN TELEVISI DIGITAL Perbedaan yang paling mendasar antara sistem penyiaran televisi analog dan digital terletak pada penerimaan gambar lewat pemancar. Pada sistem analog, semakin jauh dari stasiun pemancar televisi, sinyal akan melemah dan penerimaan gambar menjadi buruk dan berbayang. Sedangkan pada sistem digital, siaran gambar yang jernih akan dapat dinikmati sampai pada titik dimana sinyal tidak dapat diterima lagi. Perbedaan TV Digital dan TV Analog hanyalah perbedaan pada sistim tranmisi pancarannya, kebanyakan TV di Indonesia, masih menggunakan sistim analog dengan cara memodulasikannya langsung pada Frekwensi Carrier, Sedangkan pada Pada sistim digital, data gambar atau suara dikodekan dalam mode digital (diskret) baru di pancarkan. Orang awam pun dapat membedakan dengan mudah, jika TV analog signalnya lemah (semisal problem pada antena) maka gambar yang diterima akan banyak ‘semut’ tetapi jika TV Digital yang terjadi adalah bukan ‘semut’ melainkan gambar yang lengket seperti kalau kita menonton VCD yang rusak. Kualitas Digital jadi lebih bagus, karena dengan Format digital banyak hal dipermudah. Siaran TV Satelit Dulu memakai Analog. Sekarang sudah banyak yang digital. Tidak semua TV satelit memakai sistim Digital. Di beberapa satelit Arab banyak yang memakai mode analog. Sebenarnya untuk menerima siaran digital untuk TV yang analog tidaklah terlalu mahal. Receiver ini hanya tinggal pasang antena dan kemudian AV nya colokkan ke TV. Untuk siaran TV satelit namanya DVB-S (Digital Video Broadcasting – Satelite). Sedangkan untuk di daratan namanya DVB-T(Digital Video Broadcasting–Terresterial) Jika anda melihat Indosiar atau Metro TV atau RCTI melalui satelit anda bisa melihat siaran TV Digital. Tidak Harus plasma, Tidak harus HD, karena stasiun TV Nasional masih memakai SDTV meskipun mereka memancarkan secara digital lewat satelit Dengan memakai TV 14 inchi yang paling murahpun anda bisa menonton TV digital. Sedangkan jika anda membeli TV LCD, hampir semua bisa menerima signal Digital tanpa alat tambahan karena sudah dilengkapi dengan receiver digital. DAMPAK SIARAN TELEVISI DIGITAL Dampak Positif Banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan beralih ke penyiaran TV digital antara lain: • Kualitas gambar yang lebih halus dan tajam, • Pengurangan terhadap efek noise, • Kemudahan untuk recovery pada penerima dengan error correction code, serta • mengurangi efek dopler jika menerima siaran tv dalam kondisi bergerak (misalnya di mobil, bus, maupun kereta api). • Selain itu sinyal digital dapat menampung program siaran dalam satu paket, dikarenakan pemakaian bandwidth pada tv digital tidak sebesar tv analog. Dampak Negatif Disamping banyak hal yang bermanfaat, tentunya kendala yang akan dihadapi dalam migrasi ke siaran TV digital pun juga semakin banyak seperti: • Regulasi bidang penyiaran yang harus diperbaiki, • Standardisasi yang harus segera ditentukan baik untuk perangkat dan teknologi yang akan digunakan, • Industri pendukung yang harus segera disiapkan baik perangkat maupun kontennya. • Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis. PROSPEK KEDEPAN PENYIARAN TELEVISI DIGITAL DI INDONESIA DENGAN ADANYA DIGITALISASI SYSTEM SIARAN TELEVISI Kalau kita melihat dari segi bisnis dvb-h memang menjanjikan melihat aplikasi teknologinya sudah dapat di terapkan dalam handphone.Handpone sudah tidak hanya menjadi telekomunikasi tapi tempat masyarakat dalam bekerja, bersosialisasi, dan lain-lain, hp sudah tidak bisa dipisahkan lagi bagi masyarakat, hal ini jelas akan berpengaruh pada masyarakat karena ada kemungkinan bahwa teknologi dvb-h bias di nikmati di setiap hp. Seperti yang kita ketahui bersama dari tahun 1962 penyiaran televisi kita menggunakan teknologi tv analog bermigrasi ke tv digital yang di resmikan oleh bapak presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2008 yang lalu. Hal ini jelas menjadi berpengaruh besar akan teknlogi televisi kita di masa depan. Pada prinsipnya pemerintah akan memperhatikan kemampuan industri dalam negeri dalam menyediakan peranti terminal untuk pelanggan atau customer premise equipment (CPE). Meski belum banyak, kemampuan lokal sudah ada. Pemerintah berharap industri lokal dapat menyesuaikan perkembangan teknologi dan fungsi integrasi. Ponsel misalnya, menjadi peranti yang mengintegrasikan berbagai jenis pelayanan yaitu tidak hanya sebagai peranti teleponi, tetapi juga memiliki fungsi seperti kartu kredit, radio, perekam, video, organizer dan sebagainya. Bagaimanapun pada era penyiaran digital telah terjadi konvergensi antarteknologi penyiaran (broadcasting), teknologi komunikasi (telepon), dan teknologi internet (IT). Dalam era penyiaran digital, ketiga teknologi tersebut sudah menyatu dalam satu media transmisi. Dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh ataupun menyampaikan informasi menjadi semakin mudah dan terbuka. Mengingat karakter masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dan dengan tingkat pendidikan yang sangat beragam, diperlukan tuntunan kepada masyarakat bagaimana memilih program yang benar. Untuk itu, diperlukan broadcaster yang bertanggung jawab dan adanya lembaga pengawas konten yang berwibawa. Momentum penyiaran digital dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam meningkatkan kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan aplikasi-aplikasi audio, video dan multimedia, industri senetron, film, hiburan, komedi dan sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi masyarakat. DVB-H merupakan sistem dalam smart phone yang dikembangkan berdasarkan konvergensi layanan dari siaran TV digital teresterial dan jaringan komunikasi mobile. Ini merupakan standar untuk menerima siaran TV digital pada perangkat seluler. DVB-H mulai diujicobakan di Helsinki, finlandia sejak 2003. Standar ini dirancang untuk mengirim data 10 Mbps ke perangkat yang memakai baterai sebagai sumber tenaganya. Dengan DVB-H, konten multimedia dapat dinikmati tanpa harus terhubung ke jaringan mobile. Nokia kini juga tengah mencoba teknologi DVB-H di Australia. Uji coba tersebut dimulai Juli 2005 dan direncanakan berlangsung selama 12 bulan. Uji coba tersebut bekerjasama dengan Bridge Networks & Telstra, untuk konsumen yang ada di Sydney. Sumber: Feldman, T. (1997). AnIntroductiontoDigital Media, London: Routledge. Fidler, R. (1997). Mediamorphosis: Understanding NewMedia. ThousandOaks, CA: PineForgePress. Flew, T. (2002). NewMedia: anIntroduction. Melbourne: OxfordUniversity Press. Jurnal Komunikasi Massa Vol 1 No.1 2007 SELENGKAPNYA BISA DI DOWNLOAD DI: https://www.mediafire.com/folder/4jfcsr3uz22exo5,lgtbwb8k8kylsmm/shared trima kasih